Wednesday, July 28, 2010

Facebook, Antara Manfaat dan Kemerosotan


Media informasi semakin kini semakin merebak. Teknologi yang mendukungnya membuat perkembangan zaman semakin cepat. Banyak orang merasa terbantu dengan kemunculan teknologi yang terus berkembang ini, salah satunya internet. Aliran informasi pun jadi semakin cepat penyebarannya. Bukan hanya informasi lokal saja tapi informasi mancanegara pun dapat diperoleh hanya dengan sekejap mata. Tidak hanya itu, dengan internet mendapatkan teman seorang “bule” yang dulunya hanya ada dalam angan-angan kini hal itu menjadi sangat mungkin.

Salah satu karya dari seorang mahasiswa Universitas Harvard, Mark Zuckerberg, dari dalam kamarnya, ternyata malah digunakan hampir 400 juta orang di penjuru dunia. Facebook, situs jejaring sosial yang menjadi besar karena sebuah keisengan. Kini manfaatnya sangat dirasakan oleh hampir setiap manusia di muka bumi. Setiap orang bisa mendapatkan teman-teman baru dengan mudahnya, bertemu teman-teman lama dan juga melihat teman-teman yang ditemui di dunia nyata yang kini muncul di dunia maya. Dengan hanya menulis kabar di wall, uneg-uneg, informasi, keluhan, bahkan sampai perasaan pun, secara instan setiap orang bisa langsung tahu. Memberikan komentar, pujian, salut, obrolan hingga cacian dan makian secara instan seperti layaknya bertatap muka langsung secara instan di dunia maya, semua dilakukan serba praktis, mudah dan cepat. Facebook itu jelas memberikan manfaat bagi setiap orang. Seakan tanpa efek negatif, tapi apa benar?

Hingga kini, hampir 6 tahun sudah facebook digunakan, belakangan muncul orang-orang yang mengidap kecanduan facebook. Home page nya dialamatkan ke facebook. Dalam sehari, tidak ada waktu yang ia lewatkan untuk sesekali membuka facebook. Pertama kali yang dilakukan adalah membuka home page facebooknya, dimana tertera kabar dari teman-temannya, setelah itu wall-nya sendiri, melihat komentar-komentar dari temannya akan status yang ia buat. Lalu sesekali ketawa-ketiwi sendiri tanpa sadar, lalu mengomentari balik. Kemudian mulai membuka wall teman2nya, dan yang pertama kali di buka tentu saja teman spesialnya. Mungkin sudah jadi kewajiban jika facebook dibuka, ia harus tahu kabar terbaru dari teman spesialnya itu. Karena ini yang seringkali membuatnya cengar-cengir sendiri, kesel, iri, bingung, mikir, merenung atau bahkan sedih sendiri kaya orang gila. Setelah itu dilaksanakan, barulah membuka wall dari teman2nya atau mungkin kalau ada teman baru yang nge-add, berkunjung dulu ke wall teman barunya itu, sekalian melihat foto2nya. Di sela2 itu terkadang notification menyembul, tanda temannya mengomentari sesuatu atau mungkin pesan datang. Dan seterusnya dan seterusnya ...

Begitulah mungkin kejadian sederhana yang terjadi di dalam facebook (facebook inside). Perasaan seringkali bercampur di dalamnya, sehingga tanpa terasa waktu pun seakan berlalu dengan sangat cepat. Waktu yang rencananya di pakai cuma sebentar untuk menengok facebook, tapi ternyata habis berjam-jam. Dan kejadian itu berlangsung setiap hari, akhirnya tanpa sadar kita kehilangan kontrol atas pemanfaatan waktu kita sendiri. Lebih banyak menetapi dunia maya, lebih sering meninggalkan dunia nyata. Walaupun banyak manfaat dari berselancar di dunia maya, tapi seringkali hanya sedikit yang dipetik. Mungkin karena penggunanya tidak bisa mengoptimalkan manfaat dari dunia maya. Pergolakan perasaan yang membuat penggunanya terlena. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling melontarkan tulisan demi tulisan, saling berkomentar hingga kehilangan kontrol diri, lupa diri, lupa visi dan misi diri. Pada akhirnya masyarakat pun akan tetap berada dalam kondisi terjajah.

Dalam islam, apapun yang diciptakan manusia hukumnya mubah. Artinya bisa membawa manfaat, bisa juga membawa keburukan. Tergantung pada penggunaannya. Contohnya hp, hp akan bermanfaat jika digunakan untuk saling bertukar informasi secara efektif, tapi jika setelah itu muncul diskusi/ chat kesana kemari tanpa tujuan, membuai dan seakan menghipnotis agar kita tetap dalam diskusi itu, hukumnya bukan lagi bermanfaat, tapi jadi pemborosan. Dan itu adalah ciri dari mu’min yang fasik (rusak). Dunia tidak akan pernah menjadi baik jika dipimpin oleh orang-orang yang fasik, walaupun dirinya seorang mu’min.

Sedikit belajar dari budaya negeri sakura, dengan etos kerja, disiplin yang tinggi, khususnya dalam hal waktu. Kontrol diri terhadap penggunaan suatu materi yang baik, mungkin salah satunya facebook. Karena menurut data, hanya sedikit saja orang Jepang yang punya account facebook. Selain karena faktor bahasa, ini juga disebabkan mungkin karena mereka telah memiliki orientasi hidup sendiri. Orientasinya kepada dunianya. Orientasi untuk membangun peradaban dari keterbatasan sumber daya alam dan wilayahnya. Beda dengan Indonesia, dengan sumber daya alam yang tinggi dan wilayah yang luas, mendidik penghuninya agar langsung menikmati kekayaan yang ada tanpa perlu ada usaha untuk memberdayakan sumber daya alam nya demi kesejahteraan bersama yang mandiri. Hmm ... salah satu dampaknya mungkin terlihat dari penggunaan facebook. Kedua terbesar di dunia, hebat, negara berkembang yang mengalahkan negara maju lainnya dalam hal penggunaan facebook.

Walaupun penghuninya adalah mayoritas mu’min, tapi mu’min yang lebih mementingkan tubuhnya sendiri. Tanpa menjadikan mu’min lain sebagai bagian dari penegak bangunan islam agar kokoh. Makna islam yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia, belakangan berubah jadi islam sebagai pembawa kesejahteraan bagi diri sendiri. Efeknya, negeri mayoritas islam tapi seakan kesejahteraan yang dijanjikan dalam islam tak kunjung datang. Fakta yang ada mungkin tak perlu diceritakan. Beberapa mu’min yang tanpa kekurangan, lupa akan dirinya yang telah Allah lebihkan kemampuannya dari mu’min lain, untuk bisa menjadikan islam sebagai Rahmatan Lil ‘alamin (Rahmat bagi semesta alam).

“Target hidup yang paling penting adalah sejahtera diri” Mungkin itu yang sering terbersit dalam hati, tanpa terungkap lisan. Seseorang yang mengaku dirinya islam. Padahal banyak PR bagi seorang mu’min untuk bisa mewujudkan makna islam sesungguhnya yang notabene agamanya sendiri. Tapi kenyataan sekarang, islam dibuatnya sangat dangkal dengan cara berlebihan dalam menggunakan fasilitas hingga habis waktunya dan dirinya lupa terhadap islam. Apakah seperti itu pembelaan seorang mu’min untuk akheratnya ?

Wallohu’alam

Semoga jadi bahan perenungan.

No comments:

Post a Comment